Marketing Communication,
Segmentasi, Targeting, Positioning, dan Diferensiasi.
Merk, Strategi Merk, Ekuitas Merk, dan Brand Awareness
Merk, Strategi Merk, Ekuitas Merk, dan Brand Awareness
A. Marketing Communication
Pengertian 1:
· Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Komunikasi Pemasaran atau marketing communication adalah sarana di mana perusahaan berusaha menginformasikan, membujuk, dan mengingatkan konsumen secara langsung maupun tidak langsung tentang produk dan merek yang merupakan sarana dimana perusahaan dapat membuat dialog dan membangun hubungan dengan konsumen dijual. Komunikasi pemasaran mempresentasikan "suara" perusahaan dan mereknya serta.
Komunikasi Pemasaran atau marketing communication adalah sarana di mana perusahaan berusaha menginformasikan, membujuk, dan mengingatkan konsumen secara langsung maupun tidak langsung tentang produk dan merek yang merupakan sarana dimana perusahaan dapat membuat dialog dan membangun hubungan dengan konsumen dijual. Komunikasi pemasaran mempresentasikan "suara" perusahaan dan mereknya serta.
Komunikasi
pemasaran bagi konsumen, dapat memberitahu atau memperlihatkan kepada konsumen
tentang bagaimana dan mengapa suatu produk digunakan, oleh orang macam apa, serta
di mana dan kapan.
Pengertian 2:
Marketing Communication, yaitu menciptakan,
mendistribusikan, mengelola, dan mengevaluasi pesan dari produk yang telah
dihasilkan, dimana setiap informasi dan pengalaman memberikan dampak bagaimana
suatu produk tersebut dapat diterima ditengah masyarakat. Marketing
Communication tidak bisa dilepaskan dari empat hal paling terkenal, yaitu: (1)
Produk, (2) Harga, (3) Tempat distribusi, dan (4) Promosi (sebagai focus
utama).
Marketing Communication (MC) adalah tahap kolektif untuk
semua tipe variasi perencanaan suatu pesan yang digunakan untuk membangun suatu
merek (a brand) produk, dengan saluran iklan (advertising), hubungan masyarakat
(public relation), promosi penjualan (sales promotion), penjualan langsung
(direct marketing), penjualan individu (personal selling), kemasan (packaging),
event-strategi kampanye-kerjasama (event and sponsorship), dan servis kepada
konsumen (costumer service) (Duncan. 2002: 7).
Pengertian 3:
Dari http://ariefmustofa.blogspot.com/2009/05/pengertian-marketing-communications.html
Oleh: Arief Mustofa
Marketing communications (marcom) adalah proses menjalin
hubungan yang saling menguntungkan antara perusahaan- karyawan-pelanggan dan
merupakan upaya perusahaan memadukan dan mengkoordinasikan semua saluran komunikasi
untuk menyampaikan pesannya secara jelas, konsisten dan berpengaruh kuat
tentang organisasi dan produk-produknya
Pengertian 4: (Menurut Para Ahli):
Dari http://ridwaniskandar.files.wordpress.com/2009/05/51-pengertian-komunikasi-pemasaran.pdf dan http://diyolineri.blogspot.com/2012/03/definisi-komunikasi-pemasaran-menurut.html
·
Oleh: Ridwan Iskandar Sudayat, SE. dan Diyo Lineri
1. Menurut Stanton yang dikutip oleh Djaslim
Saladin dan Yevis Marti Oesman (1991; 194) Komunikasi Pemasaran
adalah kombinasi dari penjualan tata muka, periklanan, promosi penjualan,
publisitas dan hubungan masyarakat yang membantu pencapaian tujuan perusahaan.
2. Djasmin Saladin (2001; 123) Komunikasi Pemasaran
adalah aktivitas yang berusaha menyebarkan informasi, mempengaruhi dan membujuk
atau mengingatkan pasan sasaran atas perusahaan dan produknya agar bersedia
menerima, membeli loyal pada produk yang ditawarkan perusahaan yang
bersangkutan.
3. Komunikasi Pemasaran menurut Sofyan Assauri (1996:243)
adalah “Kombinasi strategi yang paling baik dari unsurunsur promosi tersebut,
maka untuk dapat efektifnya promosi dilakukan oleh suatu perusahaan,
perlu ditentukan terlebih dahulu peralatan atau unsur promosi apa saja
yang sebaiknya digunakan dan bagaimana pengkombinasian unsur-unsur
tersebut agar hasilnya dapat optimal”.
4. William G. Nickels dalam bukunya Marketing
Communication and Promotion (1984) mendefinisikan komunikasi pemasaran
sebagai berikut: proses pertukaran informasi yang dilakukan secara persuasif
sehingga proses pemasaran dapat berjalan secara efektif dan efisien (Purba,
dkk, 2006: 126).
5. Menurut Paul Smith , Chris Berry dan Alan Pulford
komunikasi pemasaran adalah hubungan sistematis antara sebuah bisnis dan
pasarnya, dimana pelaku pasar memasang beberapa ide-ide yang luas,
desain-desain, pesan-pesan, media, potonganpotongan, bentuk-bentuk dan
warna-warna, keduanya untuk mengkomunikasikan ide-ide dan untuk
merangsang persepsi khusus tentang produk dan layanan-layanan oleh individual
masyarakat yang telah dikumpulkan atau disatukan kedalam sebuah target pasar.
B. Segmentasi
Pengertian Segmentasi Menurut Kotler
(2003 ):
Kotler: “Market segmentation is the
process of breaking a heterogeneous group of potential buyer into smaller
homogeneous groups of buyer, that is with relatively similar buying
characteristics or needs” Dengan kata lain segmentasi pasar merupakan suatu
aktivitas membagi atau mengelompokkan pasar yang heterogen menjadi pasar yang
homogen atau memiliki kesamaan dalam hal minat, daya beli, geografi, perilaku
pembelian maupun gaya hidup.
Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa segmentasi memiliki peran penting dalam sebuah perusahaan karena beberapa alasan:
1. Segmentasi memungkin perusahaan untuk lebih fokus dalam mengalokasikan sumber daya. Dengan membagi pasar menjadi segmen-segmen akan memberikan gambaran bagi perusahaan untuk menetapkan segmen mana yang akan dilayani. Selain itu segmentasi memungkin perusahaan mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai peta kompetisi serta menentukan posisi pasar perusahaan.
2. Segmentasi merupakan faktor kunci untuk mengalahkan pesaing,
dengan memandang pasar dari sudut yang unik dan cara yang berbeda dari yang
dilakukan pesaing.
Manfaat Segmentasi:
Menurut Weinstein, 1994 dalam Ariwibowo, 2003, secara umum
segmentasi bermanfaat untuk meningkatkan posisi kompetisi perusahaan dan
memberikan pelayanan yang lebih baik kepada konsumen. Lebih lanjut Weinstein
(1994) mengemukan secara terperinci tentang 4 manfaat segmentasi, yaitu:
1. Designing responsive products to meet the needs of the marketplace. Melalui penelitian preferensi konsumen, perusahaan berjalan ke arah penyelesaian konsep marketing yaitu kepuasan konsumen yang akan membawa keuntungan. Perusahaan menempatkan konsumen sebagai yang utama, kemudian mendisain dan menyeleksi produk untuk kepuasan konsumen.
2. Determining effective and cost efficient promosional strategies. Segmentasi sebagai alat perencanaan merupakan alat identifikasi dan analisa yang berharga untuk mengembangkan communication mix, sehingga dapat dipilih alat promosi yang sesuai untuk menargetkan pada media yang tepat.
3. Evaluating market competition in partikular the companys market position. Riset segmentasi menyediakan a competitive intelegence mechanism untuk mengakses dan membandingkan perusahaan agar sesuai dengan standar.
4. Providing insight on present marketing strategies. Segmentasi sangat penting untuk melakukan evaluasi secara periodik terhadap marketing strategi perusahaan saat ini dengan cara memanfaatkan peluang baru dan menghindarkan dari adanya potensi terhadap ancaman.
1. Designing responsive products to meet the needs of the marketplace. Melalui penelitian preferensi konsumen, perusahaan berjalan ke arah penyelesaian konsep marketing yaitu kepuasan konsumen yang akan membawa keuntungan. Perusahaan menempatkan konsumen sebagai yang utama, kemudian mendisain dan menyeleksi produk untuk kepuasan konsumen.
2. Determining effective and cost efficient promosional strategies. Segmentasi sebagai alat perencanaan merupakan alat identifikasi dan analisa yang berharga untuk mengembangkan communication mix, sehingga dapat dipilih alat promosi yang sesuai untuk menargetkan pada media yang tepat.
3. Evaluating market competition in partikular the companys market position. Riset segmentasi menyediakan a competitive intelegence mechanism untuk mengakses dan membandingkan perusahaan agar sesuai dengan standar.
4. Providing insight on present marketing strategies. Segmentasi sangat penting untuk melakukan evaluasi secara periodik terhadap marketing strategi perusahaan saat ini dengan cara memanfaatkan peluang baru dan menghindarkan dari adanya potensi terhadap ancaman.
C. Targeting
Setelah perusahaan mengidentifikasi peluang segmen pasar,
selanjutnya adalah mengevaluasi beragam segmen tersebut untuk memutuskan segmen
mana yang menjadi target market. Dalam mengevaluasi segmen pasar yang berbeda
perusahaan harus melihat dua faktor yaitu daya tarik pasar secara keseluruhan
serta tujuan dan resource perusahaan (Kotler, 2003). Perusahaan harus melihat
apakah suatu segmen potensial memiliki karakteristik yang secara umum menarik
seperti ukuran, pertumbuhan, profitabilitas, skala ekonomi, resiko yang rendah
dan lain-lain. Perusahan juga perlu mempertimbangkan apakah berinvestasi dalam
segmen tersebut masuk akal dengan mempertimbangkan tujuan dan sumber daya
perusahaan.
Selanjutnya Kotler, Kartajaya, Huan dan Liu (2003)
menyatakan ada tiga kriteria yang harus dipenuhi perusahaan pada saat
mengevaluasi dan menentukan segmen mana yang akan dijadikan target, yaitu:
Pertama, perusahaan harus memastikan bahwa segmen pasar yang
dibidik itu cukup besar dan akan cukup menguntungkan bagi perusahaan.
Perusahaan dapat saja memilih segmen yang kecil pada saat sekarang namun segmen
itu mempunyai prospek menguntungkan dimasa datang. Sehubungan dengan hal ini
perusahaan harus menelaah kompetisi yang ada di sektor tersebut dan potensinya
untuk tumbuh karena akan berkaitan juga dengan ukuran dan pertumbuhan target
segmen perusahaan.
Kedua adalah bahwa strategi targeting itu harus didasarkan pada
keunggulan kompetitif perusahaan yang bersangkutan. Keunggulan kompetitif
merupakan cara untuk mengukur apakah perusahaan memiliki kekuatan dan keahlian
yang memadai untuk menguasai segmen pasar yang dipilih sehingga memberikan
value bagi konsumen. Untuk menghasilkan value yang unggul tidak cukup hanya
memiliki sumber daya yang memadai tetapi harus didukung dengan kapabilitas,
kompetensi inti, dan keunggulan kompetitif untuk melaksanakan diferensiasi yang
ditujukan untuk memenangkan kompetisi tersebut. Perusahaan juga harus
menganalisis dari dekat apakah segmen pasar yang dipilih telah sejalan dan
mendukung tujuan jangka panjang perusahaan.
Ketiga adalah bahwa segmen pasar yang dibidik harus didasarkan
pada situasi persaingannya. Perusahaan harus mempertimbangkan situasi
persaingan yang secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi daya tarik
targeting perusahaan. Beberapa faktor yang dipertimbangkan disini antara lain
intensitas persaingan segmen, potensi masuknya pemain baru, hambatan masuk
industri, keberadaan produk-produk pengganti, kehadiran produk-produk
komplementer serta pertumbuhan kekuatan tawar menawar pembeli maupun pemasok.
D. Positioning
Menurut Milton M. Presley et al dalam Advertising procedure:
“Positioning product is the place your product occupies in
consumers’ minds relative to competing products. Think brand image, benefit
promise, and competitive advantage. It’s how you plan to compete in the
marketplace. It’s the reasons customers should buy your product, and not the
competitors”. Dengan kata lain posititioning adalah bagaimana sebuah produk
dimata konsumen yang membedakannya dengan produk pesaing. Dalam hal ini
termasuk barnd image, manfaat yang dijanjikan serta competitive advantage. Inilah
alasan kenapa konsumen memilih produk suatu perusahaan bukan produk pesaing.
Menurut Fanggidae, 2006, positioning adalah suatu strategi
dalam kegiatan pemasaran yang bertujuan untuk menciptakan perbedaan
(differents), keuntungan (advantages), manfaat (benefit) yang membuat konsumen
selalu ingat dengan suatu produk. Dengan kata lain sebagai usaha menempatkan
sesuatu dalam pikiran orang dengan terlebih dahulu memberikan informasi tentang
segala sesuatu seperti fasilitas, program yang diberikan, dosen yang dimiliki
dengan cara penyuguhan kualitas pelayanan dan bagaimana
mempresentasikannya.
Dalam mengkomunikasikan positioning sebuah produk perusahaan harus memperhatikan faktor-faktor di bawah ini:
Dalam mengkomunikasikan positioning sebuah produk perusahaan harus memperhatikan faktor-faktor di bawah ini:
• Be creative
Be craetif maksudnya adalah bahwa perusahaan harus kreatif untuk mencuri perhatian konsumen atau target market.
• Simplicity
Simplicity maksudnya adalah komunikasi yang disampaikan harus sesederhana dan sejelas mungkin
• Consistent yet flexible
Consistent yet flexible maksudnya adalah perusahaan harus konsisten dan melihat kondisi.
• Own, dominate, protect
Own, dominate, protect maksudnya adalah dalam komunikasi perusahaan harus memiliki satu atau beberapa kata ampuh di benak pelanggan
• User their language
User their language maksudnya adalah dalam mengkomunikasikan positioning perusahaan harus menggunakan bahasa pelanggan.
Be craetif maksudnya adalah bahwa perusahaan harus kreatif untuk mencuri perhatian konsumen atau target market.
• Simplicity
Simplicity maksudnya adalah komunikasi yang disampaikan harus sesederhana dan sejelas mungkin
• Consistent yet flexible
Consistent yet flexible maksudnya adalah perusahaan harus konsisten dan melihat kondisi.
• Own, dominate, protect
Own, dominate, protect maksudnya adalah dalam komunikasi perusahaan harus memiliki satu atau beberapa kata ampuh di benak pelanggan
• User their language
User their language maksudnya adalah dalam mengkomunikasikan positioning perusahaan harus menggunakan bahasa pelanggan.
E. Diferensiasi
Kotler, Kartajaya, Huan dan Liu, 2003, menyatakan diferensiasi merupakan tindakan merancang seperangkat perbedaan yang bermakna dalam tawaran perusahaan. Tawaran tersebut harus dipersepsikan oleh konsumen sebagai hal yang berbeda, namun harus benar-benar berbeda dalam hal content, context dan infrastrukturnya.
Content adalah dimensi diferensiasi yang menunjukkan value
yang ditawarkan kepada pelanggan. Ini merupakan bagian tangible dari
diferensiasi. Contex merupakan dimensi yang menunjuk pada cara perusahaan
menawarkan produk. Ini berhubungan dengan usaha-usaha perusahaan untuk membantu
konsumen mempersepsikan tawaran perusahaan dengan cara berbeda dari tawaran
pesaing. Dimensi terakhir menunjuk pada infrastruktur seperti teknologi, SDM
dan fasilitas yang digunakan untuk menciptakan diferensiasi content dan
context.
Proses diferensiasi dapat dilakukan dalam tiga tahap
(Kotler, 2000): pertama dengan menemukan model nilai konsumen. Perusahaan harus
membuat semua daftar produk dan jasa yang mempengaruhi persepsi konsumen yang
menjadi target market terhadap value. Kedua dengan membangun hirarki nilai
pelanggan, perusahaan harus menyusun setiap faktor kedalam satu kelompok dari
empat kelompok yaitu: Basic (dasar), expected (harapan), desired (keinginan)
dan unanticipated (kejutan). Ketiga adalah menemukan sepaket nilai konsumen.
Perusahaan harus memilih kombinasi antara faktor yang intangible dan tangible
untuk membedakan dengan pesaing dan menciptakan konsumen yang loyal.
I. Merk (Brand)
Pengertian
1:
Menurut Stanton dan
Lamarto (1994:269) merk adalah nama, istilah simbol atau desain khusus atau
beberapa kombinasi unsur – unsur ini yang dirancang untuk mengidentifikasikan
barang atau jasa yang ditawarkan penjual.
Pengertian 2:
Menurut (Aaker,
1991, p. 2) merk adalah cara membedakan sebuah nama dan/atau simbol seperti
logo, trademark, atau desain kemasan yang dimaksudkan untuk
mengidentifikasikan produk atau jasa dari satu produsen atau satu kelompok
produsen dan untuk membedakan produk atau jasa itu dari produsen pesaing.
Pengertian 3:
Menurut Norman A.
Hart dan John Staplenton dalam kamus Marketing (1995 : 23,24,104), Merk
(Brand) adalah nama produk yang sudah ditetapkan, yang biasanya mengandung
nilai-nilai kelayakan bagi konsumen maupun perusahaan yang bersangkutan dan
biasanya telah didaftarkan ke kantor Pencatatan Hak Paten.
II.
Pemberian Nama Produk (Merk)
A. Produsen dapat menerapkan beberapa
strategi dalam pemberian nama merek, antara lain :
• Nama merek untuk
semua produk. Strategi ini memberikan nama merek yang berbeda untuk produk yang
berbeda.
• Nama merek
kelompok bagi semua produk, yaitu memberikan nama merek yang sama bagi semua
produk.
• Nama kelompok yang
terpisah-pisah bagi setiap produk. Strategi ini memberikan nama merek pada
kelompok produk sehingga produk turunan dalam kelompok tertentu mempunyai nama
yang sama.
• Nama perusahaan
dikombinasikan dengan nama merek setiap produk.
Keuntungan dalam memberikan merek, antara
lain :
• Merek memudahkan
pemrosesan order dan melacak masalah yang terjadi pada produk.
• Merek yang
didaftarkan akan dapat menjadi perlindungan hukum bagi perusahaan yang
mendaftarkannya.
• Kesetiaan
pelanggan pada merek tertentu merupakan perlindungan bagi perusahaan dalam
pemasaran produknya dari para pesaingnya.
• Merek membantu
penjual untuk membedakan segmen pasar.
• Merek yang kuat
akan meningkatkan citra perusahaan.
B. Menurut Philip
Kotler (1992 : 114), produsen yang ingin mencantumkan merek pada produknya akan
menghadapi beberapa pilihan stategi pemberian nama merek, yaitu :
1. Nama merek khusus (individual brandname), yaitu pemberian nama merek yang berbeda bagi tiap item jenis produk.
2. Nama kelompok
gabungan bagi semua produk (a blanket family name), yaitu pengunaan nama merek
yang sama pada semua item dan lini produk.
3. Nama kelompok
yang terpisah (separate family name), yaitu pemakaian nama merek yang berbeda
bagi tiap lini produk.
4. Nama perusahaan
digabung dengan nama khusus (company trade name combined with individual
product names).
C. Elemen – elemen dari
merk adalah Nama, Logo, Symbol, Desain, Slogan, dan Kemasan. Beberapa kriteria
yang harus diperhatikan dalam pemilihan elemen merek:
1. Mudah diingat
Artinya elemen merek yang dipilih hendaknya yang mudah diingat, dikenali, dan disebut/diucapkan. Simbol, logo, nama yang digunakan hendaknya menarik, unik sehingga menarik perhatian masyarakat untuk diingat dan dikonsumsi.
2. Memiliki makna
Artinya elemen merek hendaknya mengandung sebuah makna maupun penjelasan/ deskripsi dari produk. Diharapkan makna ini dapat mempengaruhi konsumen untuk mengkonsumsi produk tersebut.
Deskripsi makna yang terkandung dapat berupa:
a. informasi umum tentang kategori dan isi dari produk
b. informasi tentang komposisi penting yang ditonjolkan produk dan manfaat dari produk.
3. Menarik dan lucu
Pendekatan lain untuk menarik perhatian konsumen adalah dengan variasi elemen merek yang unik, lucu, pemilihan elemen yang kaya akan visualisasi dan imajinasi. Dalam hal ini yang ditonjolkan adalah desain yang menarik dan lucu.
4. Fleksibel
Artinya elemen merek dapat dimengerti dan tetap dapat diterima oleh daerah/pasar, bahkan budaya lain. Nama yang digunakan pun tidaklah terlalu sulit untuk diterjemahkan. Seringkali pemilihan elemen merek mudah diingat oleh masyarakat lokal, namun sangatlah sulit dimengerti oleh masyarakat lain. Hal ini tentunya akan menghambat produsen untuk masuk dalam pasar yang baru.
5. Legal
Artinya brand elemen tersebut sah menurut hukum dan undang–undang yang berlaku, sehingga berada di bawah perlindungan hukum.
1. Mudah diingat
Artinya elemen merek yang dipilih hendaknya yang mudah diingat, dikenali, dan disebut/diucapkan. Simbol, logo, nama yang digunakan hendaknya menarik, unik sehingga menarik perhatian masyarakat untuk diingat dan dikonsumsi.
2. Memiliki makna
Artinya elemen merek hendaknya mengandung sebuah makna maupun penjelasan/ deskripsi dari produk. Diharapkan makna ini dapat mempengaruhi konsumen untuk mengkonsumsi produk tersebut.
Deskripsi makna yang terkandung dapat berupa:
a. informasi umum tentang kategori dan isi dari produk
b. informasi tentang komposisi penting yang ditonjolkan produk dan manfaat dari produk.
3. Menarik dan lucu
Pendekatan lain untuk menarik perhatian konsumen adalah dengan variasi elemen merek yang unik, lucu, pemilihan elemen yang kaya akan visualisasi dan imajinasi. Dalam hal ini yang ditonjolkan adalah desain yang menarik dan lucu.
4. Fleksibel
Artinya elemen merek dapat dimengerti dan tetap dapat diterima oleh daerah/pasar, bahkan budaya lain. Nama yang digunakan pun tidaklah terlalu sulit untuk diterjemahkan. Seringkali pemilihan elemen merek mudah diingat oleh masyarakat lokal, namun sangatlah sulit dimengerti oleh masyarakat lain. Hal ini tentunya akan menghambat produsen untuk masuk dalam pasar yang baru.
5. Legal
Artinya brand elemen tersebut sah menurut hukum dan undang–undang yang berlaku, sehingga berada di bawah perlindungan hukum.
III. Strategi Merk
A. Strategi merk dari para ahli:
1. Aaker
Dalam bukunya, Buillding strong brand (1996), Aaker mengatakan bahwa merek yang kuat adalah yang memiliki posisi kuat. Pembentukan posisi yang kuat dimulai dengan menganalisis situasi untuk mengetahui posisi merek-merek pesaing dan posisi merek saat ini (merek yang sudah diluncurkan). Setelah itu perusahaan perlu merancang identitas merek, yaitu posisi merek yang diinginkan, dan kemudian mengkomunikasikannya melalui proses brand positioning. Hasilnya adalah posisi merek.
Dalam bukunya, Buillding strong brand (1996), Aaker mengatakan bahwa merek yang kuat adalah yang memiliki posisi kuat. Pembentukan posisi yang kuat dimulai dengan menganalisis situasi untuk mengetahui posisi merek-merek pesaing dan posisi merek saat ini (merek yang sudah diluncurkan). Setelah itu perusahaan perlu merancang identitas merek, yaitu posisi merek yang diinginkan, dan kemudian mengkomunikasikannya melalui proses brand positioning. Hasilnya adalah posisi merek.
2. Davis
Davis juga sepakat dengan Aaker, malah dalam bukunya yang berjudul Brand Asset Management (2001), Aaker memberi restu dan berbagai pujian kepada Davis. Tetapi langkah Davis sedikit berbeda karena menurutnya sebelum melakukan analisis situasi, kita harus mengetahi visi merek terlebih dulu, yakni sasaran yang diperoleh melalui pembuatan merek. Setelah posisi merek tersebut, yang merupakan tahap akhir dari konsep Aaker tentang pembentukan merek yang kuat, Davis merasa perlu melakukan evaluasi merek sebagai tahap akhir.
Davis juga sepakat dengan Aaker, malah dalam bukunya yang berjudul Brand Asset Management (2001), Aaker memberi restu dan berbagai pujian kepada Davis. Tetapi langkah Davis sedikit berbeda karena menurutnya sebelum melakukan analisis situasi, kita harus mengetahi visi merek terlebih dulu, yakni sasaran yang diperoleh melalui pembuatan merek. Setelah posisi merek tersebut, yang merupakan tahap akhir dari konsep Aaker tentang pembentukan merek yang kuat, Davis merasa perlu melakukan evaluasi merek sebagai tahap akhir.
3. Knapp
Knapp mengatakan bahwa merek bukan bukan sekedar nama besar (bila merek sudah terkenal), merek adalah cara hidup; didalamnya terdapat keinginan, janji dan komitmen yang harus dipenuhi perusahaan. Karena itu Knapp memberikan lima strtegi untuk membentuk merek yang kuat, yaitu:
1. lakukan penilaian merek. Ini kira-kira sama dengan evaluasi posisi merek pada analisis situasi Aaker. Merek perlu dipandang sebagai subjek, bukan hanya objek. Untuk itu perlu diketahui faktor-faktor asosiasi yang melekat pada merek sebagai subjek.
2. Mengembangkan janji merek, yaitu harapan tentang bagaimana merek bekerja sebagai konsumen. Atau nilai apa yang terdapat pada merek, sebagaimana pada tahap identifikasi merek ala Aaker. Dengan sendirinya, kalau sudah berjanji, merek akan berusaha menepatinya.
3. Menciptakan blueprint merek. Ini sama dengan identitas merek (brand identity) dalam konsep Aaker dan arsitektur merek (brand architecture) dalam konsep Davis.
4. Membudayakan merek, yang berarti perlu keterikatan emosional agar konsumen loyal terhadap merek. Caranya dengan memberikan manfaat-manfaat yang menimbulkan sentuhan emosional. Misalnya, dealer mobil memberikan hadiah ulang tahun atau bingkisan Hari Raya kepada para pelanggannya.
5. Meningkatkan keuntungan merek. Merek yang kuat tidaklah berguna kalau perusahaan tidak memperoleh keuntuntungan. Oleh karena itu, merek perlu dimanfaatkan seoptimal mungkin.
Knapp mengatakan bahwa merek bukan bukan sekedar nama besar (bila merek sudah terkenal), merek adalah cara hidup; didalamnya terdapat keinginan, janji dan komitmen yang harus dipenuhi perusahaan. Karena itu Knapp memberikan lima strtegi untuk membentuk merek yang kuat, yaitu:
1. lakukan penilaian merek. Ini kira-kira sama dengan evaluasi posisi merek pada analisis situasi Aaker. Merek perlu dipandang sebagai subjek, bukan hanya objek. Untuk itu perlu diketahui faktor-faktor asosiasi yang melekat pada merek sebagai subjek.
2. Mengembangkan janji merek, yaitu harapan tentang bagaimana merek bekerja sebagai konsumen. Atau nilai apa yang terdapat pada merek, sebagaimana pada tahap identifikasi merek ala Aaker. Dengan sendirinya, kalau sudah berjanji, merek akan berusaha menepatinya.
3. Menciptakan blueprint merek. Ini sama dengan identitas merek (brand identity) dalam konsep Aaker dan arsitektur merek (brand architecture) dalam konsep Davis.
4. Membudayakan merek, yang berarti perlu keterikatan emosional agar konsumen loyal terhadap merek. Caranya dengan memberikan manfaat-manfaat yang menimbulkan sentuhan emosional. Misalnya, dealer mobil memberikan hadiah ulang tahun atau bingkisan Hari Raya kepada para pelanggannya.
5. Meningkatkan keuntungan merek. Merek yang kuat tidaklah berguna kalau perusahaan tidak memperoleh keuntuntungan. Oleh karena itu, merek perlu dimanfaatkan seoptimal mungkin.
B. Berikut merupakan
informasi mengenai lima strategi merk menurut
Kotler (2000):
1.
Lakukan perluasan lini. Perluasan lini
dapat dilakukan para pelaku usaha dengan cara menambahkan varian baru
pada produk mereka. Hal ini sengaja dilakukan untuk memperluas target
pasar yang mereka bidik dan menguatkan merek tersebut di kalangan masyarakat
luas. Salah satu produk yang telah menggunakan strategi ini adalah produk
sampo Sunsilk. Mereka sengaja mengeluarkan beragam varian produk sampo
sesuai dengan jenis rambut konsumennya, seperti sampo untuk rambut rontok,
rambut berketombe, rambut kering, rambut berminyak, dan lain sebagainya. Selain
itu, merk laptop Fujitsu meluncurkan koleksi Lifebook Series terbaru dengan
varian lini produk antara lain S2110, C1320, dan P1510. Tidak ketinggalan
2.
Perluasan merek (Brand Extension).
Strategi ini sering dilakukan beberapa perusahaan besar untuk menguasai pasar.
Mereka memanfaatkan merek yang sudah dikenal banyak orang, untuk mengeluarkan
produk baru guna menjangkau pangsa pasar yang lebih luas. Lihat saja merek
lifebuoy yang dulunya dikenal masyarakat sebagai merek sabun, sekarang mulai
melebarkan sayapnya dengan meluncurkan produk handwash (sabun cuci
tangan), serta sampo untuk memperluas merek produknya di pasaran.
3.
Gunakan strategi multi-merek. Selain
menambahkan varian baru pada produk Anda, salah satu strategi pemasaran lainnya yang bisa digunakan yaitu menggunakan tambahan
merek untuk kategori produk yang sama. Strategi ini dilakukan para pengusaha
untuk menarik minat konsumen dari berbagai kalangan. Contohnya saja seperti
perusahaan Indofood yang sengaja meluncurkan merek Indomie, Supermi, serta
Sarimi untuk membidik target pasar yang berbeda. Sehingga tidak heran, jika
sampai saat ini Indofood berhasil menjadi market leader untuk kategori produk
mie instan. Selain itu, PT. Unilever Indonesia tbk memiliki 3 macam merk untuk
kategori produk sabun mandi yaitu Lux, Lifebouy, Dove
4.
Luncurkan merek baru. Jika sebuah perusahaan meluncurkan
sebuah produk baru dalam kategori
baru, namun tidak memungkinkan untuk menggunakan merek yang sudah ada. Maka
tidak ada salahnya jika mereka menawarkan sebuah merek baru bagi produk yang
akan mereka luncurkan. Cara ini telah dilakukan oleh Unilever dalam
mengembangkan kategori produknya, seperti mengeluarkan merek Pepsodent untuk
kategori produk pasta gigi, Blue Band untuk merek margarine, serta masih banyak
lagi merek lainnya untuk kategori yang berbeda. Selain itu, PT Coca-Cola
Indonesia Tbk meluncurkan merk Freshtea untuk produk baru minuman produk
perusahaan yaitu the dalam kemasan botol dengan aroma bunga melati.
5.
Gunakan merek bersama. Yang dimaksud dengan
merek bersama yaitu menggabungkan dua atau lebih merek yang sudah terkenal
dalam sebuah penawaran. Strategi ini telah dijalankan oleh Aqua-Danone dalam
memasarkan produknya.
C. Produsen, distributor atau pedagang
pengecer dapat melakukan strategi merek sebagai berikut:
1. Individual
Branding / Merek Individu
Individual branding
adalah memberi merek berbeda pada produk baru seperti pada deterjen surf dan
rinso dari unilever untuk membidik segmen pasar yang berbeda seperti halnya
pada wings yang memproduksi deterjen merek so klin dan daia untuk segmen pasar
yang beda.
2. Family Branding /
Merek Keluarga
Family branding
adalah memberi merek yang sama pada beberapa produk dengan alas an mendompleng
merek yang sudah ada dan dikenal mesyarakat. Contoh famili branding yakni
seperti merek gery yang merupakan grup dari garudafood yang mengeluarkan banyak
produk berbeda dengan merek utama gery seperti gery saluut, gery soes, gery
toya toya, dan lain sebagainya. Contoh lain misalnya yaitu seperti motor suzuki
yang mengeluarkan varian motor suzuki smash, suzuki sky wave, suzuki spin,
suzuki thunder, suzuki arashi, suzuki shodun ,suzuki satria, dan lain-lain
Dari kedua strategi
merek di atas terdapat konsekuensi berbeda bagi perusahaan yang memakainya.
Strategi individual brand membutuhkan energi yang cukup besar bagi perusahaan
untuk mengenalkan kepada konsumen. Hal ini karena, merek ini dijual dengan
merek tersendiri dan berdiri sebagai satu unit yang terpisah dengan unit produk
yang lain dari perusahaan. Akan tetapi keuntungannya adalah, jika satu merek
dari unit produksi ini mengalami masalah dalam kualitasnya maka, tidak akan
menjadikan merek-merek produk unit lain dalam satu perusahaan akan ikut jatuh
citranya di mata konsumen. Sedang strategi family brand malah
sebaliknya. Strategi family brand memiliki konsekuensi yang besar
apabila salah satu unit produknya mengalami masalah dalam kualitas produknya
akan menyebabkan seluruh unit produk yang memakai nama keluarga perusahaan
tersebut akan ikut jatuh citranya di mata konsumen. Namun, strategi ini di sisi
lain mampu membuat sebuah unit produk mudah diterima dan dipercaya oleh
konsumen karena nama keluarga produk tersebut sebelumnya telah dikenal
kualitasnya di pasar.
IV.
Equitas Merk
A. Ekuitas merek (brand
equity) adalah nilai tambah yang diberikan pada produk dan jasa. Ekuitas
merek berbasis-pelanggan (customer-based
brand equity) adalah pengaruh diferensial yang dimiliki pengetahuan merek
atas respons konsumen terhadap pemasaran merek tersebut.
B. Ekuitas Merk Menurut Para Ahli:
1. Susanto dan
Wijanarko (2004), ekuitas merek adalah seperangkat aset dan liabilitas merek
yang berkaitan dengan suatu merek, nama dan simbolnya, yang menambah atau
mengurangi nilai yang diberikan oleh suatu barang atau jasa kepada perusahaan
atau pelanggan (p. 127).
2. East (1997), “Brand equity or brand strength is the control on purchase exerted by a brand, and, by virtue of this, the brand as an asset that can be exploited to produce revenue” (p. 29). Artinya ekuitas merek atau kekuatan merek adalah kontrol dari pembelian dengan menggunakan merek, dan, kebaikan dari merek, merek sebagai aset yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan pendapatan.
3. Kotler dan Armstrong (2004), “Brand equity is the positive differential effect that knowing the brand name has on customer response to the product or service” (p. 292). Artinya ekuitas merek adalah efek diferensiasi yang positif yang dapat diketahui dari respon konsumen terhadap barang atau jasa.
2. East (1997), “Brand equity or brand strength is the control on purchase exerted by a brand, and, by virtue of this, the brand as an asset that can be exploited to produce revenue” (p. 29). Artinya ekuitas merek atau kekuatan merek adalah kontrol dari pembelian dengan menggunakan merek, dan, kebaikan dari merek, merek sebagai aset yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan pendapatan.
3. Kotler dan Armstrong (2004), “Brand equity is the positive differential effect that knowing the brand name has on customer response to the product or service” (p. 292). Artinya ekuitas merek adalah efek diferensiasi yang positif yang dapat diketahui dari respon konsumen terhadap barang atau jasa.
4. Menurut Aaker
(1991:15) Brand Equity adalah satu set brand asset dan liabilitas yang
berkaitan dengan suatu merek, nama dan simbolnya, yang menambah atau mengurangi
nilai yang diberikan oleh sebuah barang atau jasa kepada perusahaan atau para
pelanggan perusahaan.
5. Durianto, dkk,
(2001:1) mengatakan bahwa ekuitas merek (brand equity) adalah seperangkat aset
dan liabilitas merek yang berkaitan dengan suatu merek, nama, simbol, yang
dapat menambah atau mengurangi nilai yang diberikan oleh sebuah produk atau
jasa kepada perusahaan atau pada pelanggan perusahaan.
C. Brand Equity ini mempunyai lima kategori, yaitu:
1. Loyalitas merek
(Brand Loyalty) Mencerminkan bagaimana seorang konsumen beralih ke produk lain
jika terjadi perubahan harga maupun perubahan unsur-unsur produk.
2. Kesadaran merek
(Name/ Brand Awareness) Merupakan kesanggupan konsumen untuk mengenali atau
mengingat kembali suatu merek.
3. Kesan kualitas
(Perceived Quality) Mencerminkan persepsi pelanggan terhadap keseluruhan
kualitas atau keunggulan suatu produk atau jasa layanan berkenaan dengan maksud
yang diharapkan.
4. Assosiasi merek
(Brand Associations) Mencerminkan pencitraan suatu merk terhadap suatu kesan
tertentu dalam kaitannya dengan kebiasaan, gaya hidup, manfaat, atribut produk,
geografis, harga, pesaing, selebritis, dan lain-lain.
5. Aset-aset merek
lainnya (Other Proprietary Brand Assets) Aset-aset merek lainnya akan sangat
bernilai jika aset-aset itu menghalangidan mencegah para kompetitor
menggerogoti loyalitas konsumen. Aset-aset merek lainnya seperti hak paten, cap
dagang, dan saluran hubungan, rahasia teknologi, rahasia bisnis, akses khusus
terhadap pemasaok/pasar, dll.
V. Brand Awareness
A. Apa itu brand
awareness? Yang dimaksudkan dengan brand
awareness adalah kemampuan calon pembeli atau konsumen untuk mengenali
maupun mengingat sebuah merek. Dalam hal ini tentunya bisa meliputi nama,
gambar/ logo, serta slogan tertentu yang digunakan para pelaku pasar untuk
mempromosikan produk-produknya.
Bisa dikatakan, brand
awareness menjadi salah satu faktor penting yang dibutuhkan para pelaku
usaha untuk memperkuat brand produknya. Sebab, tak bisa kita pungkiri bila
semakin banyak konsumen yang mengingat brand produk
Anda, maka semakin besar pula intensitas pembelian yang akan mereka lakukan.
B. Menurut Aaker, brand awareness sendiri didefinisikan
menjadi 3 tingkatan, yakni sebagai berikut :
- Brand recognition (pengenalan), merupakan tingkatan yang paling rendah, dimana para konsumen baru mengenal sebuah merek dan masih membutuhkan alat bantu untuk bisa mengingat merek tersebut.
- Brand recall (mengingatkan kembali), kesadaran merek langsung muncul di benak para konsumen setelah merek tertentu disebutkan. Berbeda dengan recognition yang membutuhkan alat bantu, brand recall hanya membutuhkan pengulangan/ penyebutan ulang untuk mengingat merek produk.
- Top of mind (puncak), adalah tingkatan tertinggi dimana merek tertentu telah mendominasi benak para konsumen, sehingga dalam level ini mereka tidak membutuhkan pengingat apapun untuk bisa mengenali merek produk tertentu
Sumber:
http://jurnal-sdm.blogspot.com/2009/05/brand-equity-kekuatan-suatu-merek.html http://mycomgroup.wordpress.com/2010/03/20/pentingnya-mengelola-ekuitas-merek/
http://id.shvoong.com/business-management/marketing/2171558-definisi-pengertian-dan-manfaat-ekuitas/
http://rajapresentasi.com/2009/04/brand-awareness-dan-top-of-mind/
http://bisnisukm.com/brand-awareness.html
http://bisnisukm.com/brand-awareness.html
DON'T FORGET COMMENT :) !!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar