Strategi Produk
Produk
menurut J. Stanton diartikan sebagai “…Is a set of tangible and
tangible attributes, including packaging, color, price, manufacturer’s prestige
and manufacturer’s and retailer which the buyer may accept as offering want-satisfaction”
(W.J.Stanton, 1981:192).
(Produk
adalah seperangkat atribut baik berwujud maupun tidak berwujud termasuk
didalamnya masalah warna, harga, nama baik pabrik, nama baik toko yang menjual
dan pelayanan pabrik serta pelayanan pengecer yang diterima pembeli untuk
memuaskan keinginannya).
Philip
Kotler menjelaskan
“A product is anything that can be offered to a market to satisfy a want or
need, product that are marketed include physical goods, services, experiences, events, persons, places,
properties, organizations, informations and ideas” (Kotler : 200:234)
Beberapa
tingkatan produk.
Tingkatan
produk bisa dilihat dari jenis dan nilai tambah produknya. Bisa juga dilihat
dari siklus kehidupan produk (product life cyle). Nilai tambah bisa
meningkatkan kualitas produk dalam persaingan. Persaingan produsen bukan
sekedar dalam proses saja, tapi juga dalam hal aspek tambahan yaitu pembungkus,
service, iklan, pemberian kredit, pengiriman dan faktor bisa
meningkatkan kepuasan konsumen. Tingkatan produk sesuai dengan nilai tambahnya
Kotler membagi kedalam beberapa tingkatan :
1.
Core benefit.
Keuntungan
yang mendasar dari sesuatu yang dibeli oleh konsumen.seperti orang menginap di
hotel agar bisa tidur dan istirahat secara memuaskan, orang masuk restoran agar
bisa makan enak, dsb.
2.
Basic product.
Produk
dasar yang harus dipenuhi dan harus dilengkapi dari keuntungan dasar. Dalam hal
ini core benefit berubah menjadi basic product. Agar tercapai kepuasan
maka hotel harus melengkapi menyediakan kamar, tempat tidur, toilet, Ac dan
kebutuhan lainnya secara lengkap.
3.
Expected product
Konsumne
memiliki harapan terhadap barang dan jasa yang telah dibelinya. Sehingga barang
yang dibeli harus yang terbaik, hotel yang bisa memberikan pelayanan dan
fasilitas terbaik sehingga memberikan kepuasan maksimal.
4.
Augmented product.
Suatu
nilai tambah yang diluar apa yang dibayangkan oleh benak konsumen. Misalnya
dikamar ada TV kabel dengan chanell, SPA dan karaoke gratis, dll. Augmented
produk ini punya kelemahan yang bias digunakan sebgai alat persaingan. Bisa
jadi augmented product suatu waktu bisa menjadi expected product, karena konusmen
telah terbiasa dengan perlengkapan tambahan tersebut yang biayanya menjadi
biaya tambahan sehingga harga jadi mahal. Namun bisa juga dengan adanya
augmented product biaya tidak terlalu mahal dengan tujuan untuk memenangkan
persiangan.
5.
Potential product
Mencari
nilai tambah produk yang lain untuk dimasa depan setelah konsumen menggunakan
produk dan jasa kita. Seperti pelayanan after sales, menawarkan discount
member, dll.
Siklus kehidupan
produk
Dilihat
dari siklus kehidupan produk maka sebuah produk akan mengalami tahapan-tahapan
yang niscaya akan dilalui kedalam lima tingkatan antara lain :
- Tahap pengenalan produk
(introduction)
- Tahap pengembangan (Growth)
- Tahap kematangan (Maturity)
- Tahap menurun (Decline)
- Tahap ditingalkan (Abandonment)
Setiap
produk biasanya mengalami kelahiran dan kematian baik dalam jangka pendek
maupun jangka panjang. Suatu produk bisa saja pada suatu waktu sangat disukai
banyak orang dan laku keras, namun di lain waktu produk itu tidak laku lagi
dijual. Jadi pengertian daur hidup produk yaitu tahapan suatu produk mulai dari
lahir, tumbuh, dewasa dan mati. Setiap produk memiliki masa daur hidup produk
yang berbeda. Produk elektronik biasanya memiliki rentang waktu yang sempit
alias cepat mati sedangkan produk seperti makanan dapat bertahan lebih lama.
Contohnya handphone nokia tipe tertentu akan dibatasi jumlah yang dibuat dalam
beberapa tahun, lalu membuat tipe hp lainnya. Minuman aqua sudah puluhan tahun memimpin
pasar dan masih berada dalam kondisi antara pertumbuhan dengan dewasa.
Langkah /
Tahap Dalam Daur Hidup Produk (Product Life Cycle)
1.
Tahap Perkenalan / Introduction
Pada tahap
ini produk baru lahir dan belum ada target konsumen yang tahu sehingga
dibutuhkan pengenalan produk dengan berbagai cara kepada target pasar dengan
berbagai cara.
2. Tahap
Pertumbuhan / Growth
Ketika
berada pada tahap tumbuh, konsumen mulai mengenal produk yang perusahaan buat
dengan jumlah penjualan dan laba yang meningkat pesat dibarengi dengan promosi
yang kuat. Akan semakin banyak penjual dan distributor yang turut terlibat
untuk ikut mengambil keuntungan dari besarnya animo permintaan pasar.
3. Tahap
Kedewasaan / Maturity
Di tahap
dewasa produk perusahaan mengalami titik jenuh dengan ditandai dengan tidak
bertambahnya konsumen yang ada sehingga angka penjualan tetap di titik tertentu
dan jumlah keuntungan yang menurun serta penjualan cenderung akan turun jika
tidak dibarengi dengan melakukan strategi untuk menarik perhatian konsumen dan
para pedagang. Karena sudah banyak pesaing, para pedagang mulai meninggalkan
persaingan dan yang baru tidak akan banyak terlibat karena jumlah konsumen yang
tetap dan cenderung turun.
4. Tahap
Penurunan / Decline
Pada
kondisi decline produk perusahaan mulai ditinggalkan konsumen untuk beralih ke
produk lain sehingga jumlah penjualan dan keuntungan yang diperoleh produsen
dan pedagang akan menurun drastis atau perlahan tapi pasti dan akhirnya mati.
Beberapa
teknik atau cara untuk memperpanjang daur hidup produk :
- Meningkatkan Konsumsi dengan
cara membujuk konsumen untuk meningkatkan penggunaan produknya dengan
berbagai manfaat yang ditawarkan. Contoh : untuk hasil maksimal gunakan
pasta gigi sepanjang bulu sikat, apa pun makannya minumnya teh botol
sosro, memakai sampo setiap hari membuat rambut sehat, dsb.
- Mencari fungsi lain produk dari
biasanya. Contoh seperti teh tidak hanya untuk ngeteh saja tapi dapat
dibuat kreasi menjadi minuman yang lebih kompleks.
- Memodifikasi produk agar tampil
baru dan segar baik dari segi isi, kemasan, takaran, ukuran, manfaat, dan
lain sebagainya. Contoh misal seperti produk unilever yang biasanya terus
menerus mengganti isi pepsodent beserta kemasannya agar selalu tampil baru
dan segar.
- Mencari target konsumen baru
Jika pasar
yang sudah ada sudah tidak dapat diandalkan untuk meningkatkan penjualan maka
dapat ditempuh jalan dengan cara membidik segmen pasar baru untuk dibujuk untuk
menjadi pelanggan. Contoh : rokok sampoerna hijau yang tadinya membidik
golongan menengah ke bawah kini mulai membidik golongan menengah ke atas untuk
memperluas segmen pasar.
Produc
Planning
Cannon
& Wichert dalam bukunya Marketing Text and Cases, Product palnnnig
adalah semua kegiatan yang dilakukan oleh pabrikan atau produsen dalam
menentukan dan mengembangkan produknya, memperbaiki produk lama, memperbanyak
kegunaan produk yang sudah ada dan mengurangi biaya produksi dan biaya
pembungkus. Philip Kotler membagi menjadi delapan tahapan :
- Penciptaan ide
- Penyariangan ide
- Pengembangan dan pengujian
konsep
- Pengembangan strategi pemasaran
- Analisa usaha
- Pengembangan produk
- Market testing
- Komersialisasi
Produk
Baru
Ciri-ciri
produk baru adalah :
- produk tersebut betul-betul
hasil inovasi baru.
- pengganti produk lama, tetapi
berbeda dalam pemakaiannya
- produk imitasi
Lalu
bagaimana menambah kegunaan produk? banyak variasi produk yang dihasilkan
perusahaan adalah :
- Menciptakan tambahan penggunaan
dari produk yang sudah ada.
- Produk yang biasa dijual untuk
kaum wanita, sekarang juga dipasarkan untuk kaum wanita.
- Digunakan dalam hubungan
bersamaan dengan produk lain.
- Biasa digunakan untuk industri
baru, jika suatu perusahaan berdiri, maka bisa pula berdiri perusahaan
baru yang mempergunakan hasil industri perusahaan lama.
Jadi usaha
penciptaan produk baru seiring dengan strategi perluasan pasar melalui :
- pencarian pemakai baru.
- menciptakan pemakaian baru
- memeprluas pemakaian, dengan
cara memberikan petunjuk kepada kosnusmen agar produk ini digunakan.
Merek
(brand) dan kemasan (Packaging)
Pemberian
merek sangat penting untuk membantu kelancaran penjualan dan besar kecilnya
merek harus dipikirkan dengan matang jangan sampai menyimpang dari keadaan dan
kualitas serta kemampuan perusahaan.
Tujuan
yang ingin dicapai dalam pemberian merek adalah jaminan dari para pengusaha
terhadap konsumen bahwa barang yang dibeli benar-benar dari perusahaannya.
Selain sebagai pembuktian akan kualitas barang, mudah diingat dan disebut sehingga
konsumen dapat menyebutkan mereknya dan bisa meningkatkan ekuitas merek yang
memungkinkan memperoleh margin lebih tinggi, memberi kemudahan dalam
mempertahnkan kesetiaan konsumen. Serta memberi motivasi pada saluran
distribusi, karena barang dengan merek terkenal akan cepat laku dan mudah
disalurkan dan penangananya.
Dalam
Pengembangan produk tentu masalah merek dan kemasan sangat penting sekali
sehingga kita mengenal beberapa istilah yang berhubungan dengan merek :
1.
Brand.
Philip
kotler dan Garry Amstrong mendefinisikan : “Brand is name, term, sign,
symbol or design or a combination of these, intended to identify the goods or
service of one seller or group of sellers and to differentiate them from those
of competitor”(Kotler & Garry, 1991:260). Aaker mendefisikan
: “Brand is distinguishing nam or symbol such as a logo, trademark or
package design, intended to identify the goods or services of either one
sellers and to differentiate those goods or services from those
competitor.”Begitu juga American Marketing association (AMA) A
Brand is name, term, sign, symbol or design or combination of them, intended to
identify the goods or services of one seller or groups of seller and to
differentiate them from those of competitor (2000:404)
Intinya
Brand adalah sebuah nama, istilah, tanda, symbol atau desain atau kombinasinya
yang bertujuan untuk mengidentifikasi barang dan jasa yang membedakan suatu
produk dengan produk saingan.
2.
Brand name
Sedang
istilah brand name adalah ”..Is that part of a brand which can be
vocalized-the unterable”. Nama cap adalah bagian dari cap yang dapat
diucapkan, biasanya menunjukan nama perusahaan atau institusi organisasinya.
Seperti Honda, Panasonic, Telkom, dll.
3.
Brand mark
Brand mark
adalah bagian dari merek/cap yang dapat dikenal atau diketahui, tetapi tidak
dapat diucapkan, karena berupa simbol, lambang, logo, desain atau bentuk
spesifik huruf atau warna. (”A brand mark is that part of brand which can be
recognized but is not unterabel, such a symbol, design or distinctive coloring
or lettering) Contoh : Gambar singa-MGM, gambar stir-MercedezBenz.
4.
Trademark
Begitu
juga dengan Trademark bisa diartikan sebagai : ”…Is a brand or part of a
brand that is given legal protection, it protects the seller’s exclusive rights
to use brand name or brand mark. (Cap dagang ialah merek atau bagian dari
merek yang memberikan perlindungan hokum, melindungi hak-hak pemilik merek atau
cap).
5.
Brand image
David A.
Aaker (1997:7)
mengartikan image sebagai : ”…is the total impression of what person or
group people think and know about and object” Engel mendefinisikan “Imaginary
is a process by which sensory information and experiences are refresented in
working memory”. Kotler (1997:607) mengartikan sebagai “Image is
the set of beliefs, ideas and impressions that are person holds regarding an
object. Peoples attitude and actions towards an object are highly conditioned
by that object’s image”.
Citra
terbentuk dalam jangka waktu tertentu sebab merupakan sebuah akumulasi persepsi
terhadap suatu objek apa yang terpikirkan, diketahui dialami yang masuk kedalam
memori manusia berdasarkan masukan-masukan dari berbagai sumber sepanjang
waktu.
6.
Brand Equity.
Kotler
& Amstrong (1999:glossary) Brand equity the value of a brand, based on the ectent to
which it has high brand loyalty, name awareness, perceived quality strong brand
associations and other asses suc as patents, trademarks an channel
relationships.
Lynn B.
Upshaw
memberikan batasan bahwa :”Brand equiy is the total accumulated value or
worth of brand the tangible assets that the brand contributes to its corporate
parent, both financially and interest of selling leverage”
Artinya brand equity ialah nilai
dari suatu merek didasarkan atas tingginya brand loyalty, kesdaran, kualitas,
kekuatan, adanya paen yang memberi kekuatan pada suatu merek, bisa juga
merupakan kumpulan dari adanya persepsi merek pada benak konsumen, mulai dari
adanya brand awareness-kesadaran merek, brand acceptability-penerimaan
merek, brand preference-pembeda merek yang melaihirkan brand priority-prioritas
barang yang akan dibeli dan akhirnya tumbuh brand loyalty-tidak mau
berganti merek.
Kalau
brand equity merupakan nilai konsumen terhadap merek kita, sedang brand
identity lebih merupakan seperangkat asosiasi merek yang digunakan oleh ahli
strategi merek dan janji kepada konsumen yang harus dipenuhi. Brand identity
sebagai bagian dari brand equity.
Brand
equity memberikan nilai melalui empat fase yaitu :
1.
Dimensi kesadaran merek (brand awareness) adalah kesanggupan konsumen
untuk mengenali suatu produk atau seberapa kuat merek tertanam dalam ingatan
konsumen. Kesadaran merek ini tertanam dalam benak konsumen.
menurut Aaker
bergerak mulai dari recognition=pengenalan, to recall =
pengingatan, top of mind = puncak pikiran, unware of brand =
tidak menyadari merek.
2.
Dimensi kesan kualitas (perceived quality).
Kesan
konsumen terhadap kualitas bias memberikan penilaian positif dan negative yang
menghasilkan nilai. Barnes, (2001:104) ada 4 kesan seorang pelanggan terhadap
produk yaitu “Value is low price, the quality I get for price I pay or
everyting I want in service and is all that I get for all that I give”
selain perusahaan bisa memberikan experiential dan emotional brand sesuai
dengan gaya hidupnya.
3.
Dimensi asosiasi (brand association)
Untuk
menanmkan sebuah asosiasi brand membutuhkan waku yang sangat lama melalui
periklanan dan promosi yang gencar sampai mencapai tahap kematangan produk
salah satunya produk menjadi marketing leader. Coba apa yang anda pikirkan
tentang produk Sanyo, odol, orson, aspirin, cellopane, nylon, Xerox,dll.
Sanyo identik dengan pompa, padahal sanyo bukan hanya memproduksi
pompa saja tapi alat elektronik yang lainnya. Atau aqua sudah menjadikan produk
untuk brand asosiciation untuk air galonan.
4.
Dimensi loyalitas (brand & customer loyalty)
Setelah
melali proses diatas kesan yang kuat mealu pengalaman dan penanaman emotional
brand akan melahirkan brand loyalty yang berlanjut pada customer loyalty.
Jill Griffin (2002:5) mengartikan “a customer has a specific
bias about what to buy and from whom. Two important conditions associated with
loyalty are customer retention and total share of customer. Many companies
operate under the false impression that a retained customer is automatically a
loyal customer”. Lebih lanjut Griffin mengartikan “loyalty is defined as
non-random purchase expressed over time by some decision-making unit”.
Ciri-ciri
konsumen yang loyal terhadap produk kita dapat dilihat konsumen melakukan
pembelian ulang secara teratur, juga membeli produk lain yang ditawarkan
penjual, merkomendasikan teman-temannya untuk membeli produk yang sama ketempat
sama dan mereka tidak mudah beralih ke produk lain.
Hermawan
karta jaya menkelompokan para konsmen dilihat tingkat loyalitasnya kedalam lima
kelompok :
- Terorist customer yaitu mereka yang seperti
bermusuhan dengan perusahaan karena suka mengungkapkan cerita tidak bai
tentang perusahaan.
- Trasactional customer yaitu mereka berhubungan hanya
sebatas transaki saja.
- Relationship customer
yaitu mereka yang telah melakukan repeat buying.
- Loyal customer
yaitu konsumen yang selalu setia dengan perusahaan walaupun orang lain
mneceritakan keburukan perusahaan tersebut.
- Advocator customer, inilah pelanggan istimewa dan
excellent.
Jill
Griffin (2002:219)
dalam bukunya “customer loyalty” menyatakan ada 12 hukum loyalty yaitu
:
1.
Build staff loyalty, konsumen akan senang dengan staf yang dekat
dengannya yang penuh pengertian.
2.
Practice the 80/20 rule artinya 80 % pendapatan lembaga bisa datang dari
20% konsumen.
3.
Know your loyalty stages and ensure your customer are moving through them,
lembaga harus selalu memperbaiki tingkat loyalitsnya sehingga konsumen bias
dibentuk makin lama loyal.
4.
Serve first, sell second, utamakan pelayanan, penjualan belakangan karena
penjualan adalah sebagai hasil dari layanan yang baik.
5.
Aggresivelly seek out customer complaints, cari dan teliti secara aktif
apa sebenarnya yang dikeluhkan oleh langganan.
6.
Get responsive and stay that way, harus responsif dan pertahankan sikap
tersebut.
7.
Know your customer’s definitions of value, pahami danc ari nilai-nilai
apa yang diharapkan oleh konsumen.
8.
Win back lost customers, dekati dan wawancara konsumen yang lari, kenapa
mereka berpindah, shingga mereka bias ditark kembali.
9.
Use multiple channels to serve the same customer well, Konsumen biasanya
memperoleh pelayaan dari berbagai personil.
10. Give
your front line the skills to perform, karyawan berdiri digaris depan dan
memayani konsumen harus trampil dan professional.
11. Collaborate
with your channel patners, gunakan chanel yang bisa dimanfaatkan oleh
lembaga penjualan.
12.
Store your data in one centralized database. Kepuasan konsumen
kunci utama biar konsumen loyal pada produk kita.
Desain
kemasan (Packaging)
Dalam
mendesain packaging, fungsi juga merupakan salah satu pertimbangan utama yang
menentukan bentuk yang spesifik dari kemasan produk. Fungsi packaging
seringkali juga dapat dijadikan Unique Selling Point, karena berpengaruh
langsung terhadap pemakaian produk. Misalnya seperti tutup yang lebih mudah
dibuka, botol yang lebih enak digenggam, dan lain sebagainya.
Walaupun
demikian, tidak semua produk yang melakukan inovasi desain packaging produk
mengomunikasikannya sebagai USP. Contohnya adalah desain botol sebuah merek
minyak goreng yang bentuknya mengambil format angka 8, sehingga di daerah leher
tekukannya sebenarnya lebih mudah untuk digenggam. Desain tersebut tidak pernah
dikomunikasikan sebagai USP.
Jika
desain perwajahan produk lebih berpengaruh secara emosional kepada konsumen,
maka fungsi lebih berpengaruh secara rasional. Kesalahan dalam mendesain fungsi
packaging dapat berakibat konsumen enggan untuk membeli produk karena mereka
merasa kesulitan atau risih untuk menggunakan produk tersebut.
Permasalahan
yang menarik, pada saat sebuah desain packaging menuntut agar salah satu aspek
dikorbankan, manakah yang harus dijadikan prioritas? dari contoh kasus survei
yang pernah kami lakukan terhadap produk shampo kecantikan lokal yang cukup
terkenal, di mana produk tersebut memiliki ciri khas dalam desain tutup botol
kemasannya, yaitu “koin” yang digrafir logo merek kosmetik tersebut.
Setelah
hadir selama belasan tahun dengan desain tersebut, tim produk shampoo tersebut
ingin melakukan perubahan terhadap desain tutup botolnya. Intinya adalah
perubahan dari tutup model putar menjadi model pop-up yang diperkirakan lebih
praktis bagi konsumen. Namun fungsi pop-up tersebut harus mengorbankan “koin”
klasik tersebut.
Saat
perubahan desain tersebut ditanyakan kepada konsumen melalui survei, ternyata
mayoritas konsumen justru menyukai inovasi pada fungsi tutup botol tersebut
walaupun harus mengorbankan desain koinnya yang klasik.
Selanjutnya
kita berbicara mengenai faktor Informasi produk yang dapat kita ketahui melalui
packaging. Secara gamblang, informasi yang dimaksud dapat kita artikan dengan
keterangan-keterangan mengenai produk yang tertulis di bidang packaging produk.
Bagi
sebagian produk seperti obat-obatan atau makanan, mencantumkan keterangan
mengenai kandungan yang terdapat dalam produk adalah suatu keharusan. Namun
pernahkah Anda bayangkan, bahwa sebenarnya banyak dari konsumen Anda, terutama
kalangan ibu rumah tangga, yang ternyata benar-benar mencoba membaca keterangan
tersebut. Kemudian membandingkannya satu dengan yang lain, untuk kemudian
mereka memilih produk yang menurut mereka paling banyak mengandung bahan-bahan
yang bermanfaat.
Seringkali
sebenarnya mereka tidak sepenuhnya mengetahui arti dan fungsi kandungan-kandungan
seperti DHA, Omega 3 maupun AA. Namun mereka percaya bahwa bahan tersebut baik
untuk dikonsumsi oleh anggota keluarganya. Naluri memberikan manfaat yang lebih
itulah yang mendorong mereka untuk memperhatikan keterangan pada packaging produk.
Informasi
pada packaging produk juga dapat berupa ilustrasi produk. Ilustrasi produk pada
packaging ternyata cukup bermanfaat untuk menuntun konsumen kepada produk kita.
Terutama pada kondisi yang crowded, seperti jajaran produk sejenis berbagai
merek di dalam rak hipermarket. Mungkin hal ini sepertinya sepele, namun
adakalanya ternyata konsumen memerlukan “tanda penuntun” yang lebih jelas dan
meyakinkan kepada merek yang diinginkannya.
Kini kita
telah mengetahui bahwa fungsi memiliki prioritas yang lebih tinggi pada
konsumen dibandingkan dengan faktor estetika semata pada desain packaging
produk. Dan bahwa konsumen terutama, ibu rumah tangga, cukup megapresiasi
keterangan-keterangan yang tertera dalam packaging, sehingga Anda dapat
memanfatkannya untuk mengekspos kelebihan-kelebihan produk Anda.
Disain
Packaging: Bagaimana Bila Harus Berubah?
SEBAGAI
seorang pemasar kita tentu mengetahui pentingnya arti packaging atau kemasan
bagi sebuah produk. Konsep kemasan yang telah “dipatenkan” oleh ahli-ahli pemasaran
dalam rumus klasik bauran pemasaran produk 4P, adalah salah satu komponen utama
ang wajib dikonsepkan dengan seksama untuk menciptakan sebuah produk yang mampu
bersaing di pasaran.
Dalam
beberapa tahun terakhir ini, kami telah menyaksikan bagaimana rekan-rekan dari
kalangan produsen (product manager & marketing manager dan tim mereka),
dan juga dari agency telah mencurahkan perhatian mereka untuk menciptakan
produk dengan kemasan-kemasan yang menarik dan berkualitas.
Namun ada
satu hal yang menarik perhatian kami, yaitu manakala produsen ingin mengganti
desain packaging. Banyak faktor yang menjadi perhatian produsen saat memutuskan
untuk mengganti desain packaging produk, namun pertimbangan yang biasanya
menjadi permasalahan adalah: “Apakah konsumen akan menyukai desain kemasan
baru?”
Memang
banyak sekali faktor yang mempengaruhi konsumen untuk menyukai packaging sebuah
produk. Dalam beberapa survei dan Focus Group Discussion yang telah kami
lakukan, kami mencatat ada beberapa hal penting yang mempengaruhi konsumen
untuk menyukai sebuah desain packaging. Hal-hal tersebut antara lain adalah
disain perwajahan, fungsi, dan informasi yang diberikan melalui packaging.
Faktor
disain perwajahan biasanya menyangkut wilayah estetika, seperti pemilihan
warna, font huruf yang digunakan dan tata grafis. Kadangkala pemasar bisa
terjebak dengan selera pribadinya, karena faktor estetika sangat erat
hubungannya dengan selera individu.
Untuk
menghindari hal tersebut, ada beberapa hal yang dapat dijadikan patokan bagi pemasar
dalam menentukan desain perwajahan yang tepat bagi produknya:
1.
Segmentasi konsumen. Disain perwajahan erat hubungannya dengan selera individu.
Oleh karena itu, melalui desain perwajahan produsen dapat mengomunikasikan
dengan tepat, bagi siapa produk ini layak digunakan. Apakah pria-wanita,
tua-muda, dan lain sebagainya.
2.
Karakteristik produk. Dari segi fungsi dan pengkategorian, sebuah produk
memiliki kategori yang khas. Apakah itu produk lokal yang ingin dicitrakan
sebagai produk impor, ataukah produk perawatan kulit yang bersifat medicated
namun ingin dicitrakan sebagai produk kosmetik.
Kekeliruan
dalam menterjemahkan segmentasi konsumen dan karakteristik produk ke dalam
disain perwajahan kemasan, dapat membuat konsumen ragu-ragu untuk menjatuhkan
pilihan mereka dalam membeli produk kita.
Namun
apabila kita telah menerjemahkan faktor-faktor tersebut secara tepat, perubahan
desain dalam rangka re-juvinating tidak akan berpengaruh terhadap preferensi
konsumen. Tentu saja hal ini berlaku selama tidak ada perubahan mendasar
terhadap konsep segmentasi dan karakteristik produk.
Apabila
Anda merasakan ingin melakukan sesuatu terhadap disain perwajahan packaging
produk Anda, jangan ragu untuk melakukan perubahan. Selama konsep Anda sesuai
segmen konsumen dan karakteristik produk yang bersangkutan.
Konsep
AIDAs
- A= attenstion (menarik
perhatian)
- I = Interest (menimbulkan minat
lebih dalam)
- D= Desire (keinginan untuk
membeli)
- A = Action (melakukan
pembelian)
- S = satisfactions ( Menimbulkan
rasa puas)
Sumber pustaka
:
David A.
Aaker, 2001. Strategic
Market Management, John wiley & Sons, Inc, New York.
Hermawan Kartajaya. 2002, Mark Plus on Strategy, Gramedia,
Jakarta.
Hermawan Kartajaya. 2007, Marketing in Venus, Gramedia, Jakarta.
Hermawan Kartajaya. 2003, Martha Tilaar, Marketing in Venus, Pt
Matina Berto Jakarta.
James G. Barne. 2003. Secret of Customer Relationship Management,
McGrawHill.
Jame F Angel .1994, Prilaku konsumen, Nina Aksara , Jakarta.
Jill Griffin .2002. Customer Loyalty, How to Earn It, How to Keep It,
Joosey Bass. Lynn B. Upshaw. 1999. Merek sebagai Aset
Perusahaan, Jurnal Pasca Sarjana Unpad Bandung.
Phlip Kotler & garry Amstrong, 1999. Priciples of Marketing,
Prentice Hall International, Inc.
Phlip Kotler, 2000. Marketing Management, Prentice Hall International,
Inc.
William J. Stanton. 1993. Prinsip Pemasaran, Jilid I,
Erlangga, Jakarta.
DON'T FORGET COMMENT :) !!!